Maret 17, 2011

kata mutiara IMam syafi,i

Siapa tidak kenal Imam Syafi’i? Ulama besar yang mazhabnya banyak dianut di Indonesia ini adalah perintis dalam ushul fiqh, cabang ilmu Islam
yang mempelajari cara menggali hukum dari Al-Quran dan Sunah Nabi Aaw. Banyak karya sudah ditelurkannya, di antaranya yang terkenal adalah kitab Ar-Risalah dan Al-Umm. Selain menulis banyak buku, Imam Syafi’i yang lahir di Palestina pada 150 H ini juga terkenal sebagai ahli hikmah. Kata-kata mutiara Islam yang terucap dari mulutnya mengandung banyak perenungan.
Kata Mutiara Imam Syafi'i
Salah satu kutipan ucapannya yang terkenal adalah “barangsiapa yang tidak dimuliakan karena ketakwaan, maka tidak ada kemuliaan baginya.” Jika kita renungi secara mendalam, kata mutiara tersebut, ada pelajaran yang begitu berharga tentang cara kita melihat orang lain dan diri sendiri. Pada dasarnya, setiap manusia memiliki keinginan untuk dimuliakan dan dihormati oleh orang lain. Hal ini terlihat sejak manusia masih kecil, ketika ia tersenyum bangga saat orangtuanya memujinya.
Maka wajar saja jika setiap orang selalu berusaha meraih berbagai atribut yang menurutnya akan membuatnya terlihat mulia di hadapan orang lain. Kita berlomba mengejar jabatan, harta kekayaan, dan bahkan gelar keilmuan demi menyandang prestise dan status sosial. Tidak jarang, demi meraih atribut-atribut itu, kita saling sikut dan menghalalkan segala cara.
Rasanya, hal ini bukan isapan jempol belaka karena gejalanya dapat kita jumpai dalam keseharian kita maupun media massa. Berapa banyak sudah orang-orang berebut jabatan dan tega untuk menyebarkan fitnah terhadap rekannya demi meraih jabatan itu. Sudah sering juga disebut dalam berita kasus-kasus korupsi dari mereka yang bernafsu untuk menumpuk harta.
Tentu, kasus-kasus di ats adalah contoh ekstrem. Dalam keseharian, tidak jarang kita temui orang-orang yang hidupnya hanya berfokus mencari materi, lalu lupa untuk membina kesehatan rohaninya. Hingga, setelah ia berhasil meraih materi, ia bersikap sombong dan memandang rendah orang lain seolah dengan materi yang ia miliki ia menjadi orang yang paling mulia. Ia kira, dengan mobil yang ia punya, rumah mewah yang ia tempati dan sederet gelar yang berbaris di belakang namanya, ia menempati posisi istimewa di hadapan orang lain.
Padahal, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk meninggalkan sikap cinta dunia dan membangun sikap zuhud (sederhana) serta lebih memperhatikan kehidupan akhirat. Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya mencontohkan hal ini dengan baik.
Mereka rela hidup sederhana dan menyerahkan apa pun yang mereka miliki untuk dakwah Islam. Sebaliknya, mereka lebih mengutamakan kualitas ibadah mereka dan ketinggian ilmu mereka. Dengan ilmu dan ibadah itu, mereka meraih ketakwaan.
Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam Kitab Suci Al-Quran bahwa orang yang paling mulia adalah orang yang paling bertakwa kepada Allah Swt. Arti takwa di sini adalah menjalankan perintah Allah Swt dan menjauhi larangan-Nya. Oleh karena itu, Islam mendorong pada umatnya agar mengejar kemuliaan lewat ketakwaan.
Inilah hikmah yang dapat kita petik dari kata mutiara di atas. "Barangsiapa yang menjadi mulia bukan karena ketakwaan, tapi karena harta, jabatan dan lainnya, maka walaupun di hadapan manusia ia dipandang mulia, di hadapan Allah Swt ia tidak mulia." Allah Swt hanya memandang ketakwaannya saja.
Maka, sudah sepantasnya bagi kita berlomba-lomba meraih posisi mulia di hadapan Allah Swt dengan terus menerus meningkatkan ketakwaan kita kepada-Nya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Hallo sobat!!!,, silahkan memeberikan komentar anda,,

AYo, kita mengikuti aturan yang ada dengan menggunakan bahasa yang santun dalam berkomntar,,

Terima kasih telah berkunjung,,,Semoga bermnfaat!!